tanpa judul

tanpa judul

10.1.11

R.I.P

he died peacefully on January 11, 2008.

sepuluh januari

sepuluh januari tiga tahun yang lalu. hanya secuil kisah yang aku ingat. aku hanya ingat ketika ia menawarkan makanan. aku hanya ingat ketika ia membelikannya untuk ku. aku ingat ketika kami tidak makan bersama. aku ingat ketika ia pamit. aku pun ingat wajahnya. tapi aku lupa suaranya yang dapat menentramkan hati. aku lupa ketika ia berlalu. dan aku pun lupa mengapa sampai akhir tak dapat bertemunya?
wahai sepuluh januari, andai saja waktu itu engkau dapat menceritakan apa yang akan terjadi pada sebelas januari.

8.1.11

"me,we - muhammad ali"

maaf

maafkan saya yang selalu meminta
maafkan saya belum memberi apapun
maafkan saya tidak membahagiakan
maafkan saya tidak seperti mereka
dan MAAFKAN SAYA yang SELALU MEMINTA

mereka dan dunia nya

kita sama
kita manusia
kita saling kenal
kita saling akrab
namun mengapa dunia kita berbeda ?

DAM(n)RI

hari itu kami memutuskan berjalan-jalan kesuatu tempat untuk menghilangkan kepenatan setelah hari kemarin baru saja dilanda cobaan yaitu UAS tiga matkul sekaligus. --"
kami merasa bahagia bisa tertawa bersama dan menghabiskan waktu bersama, karena jarang sekali kami bepergian jauh seperti itu. kami sangat menikmati kebersamaan hari itu. kami tidak mau melewatkan moment sebelum  kami masing-masing pergi berlibur. semua berjalan baik sampai pada saatnya kami harus kembali pulang menaiki sebuah sarana transportasi di kota itu. bersama kami berjalan melewati ramainya kota diiringi terik matahari siang itu. kami menaiki tangga kendaraan tersebut dan memilih bangku paling belakang. seseorang diantara kami memilih mengabadikan moment kebersamaan kami di dalam sana. tertawa, bergaya, dan menutupi wajah adalah hasil pengabadiannya. kami berada disana sejak pukul 13.00, seseorang diantara kami menoleh ke arah jam tangannya dan berkata, "sekarang sudah jam 13.45 dan kenapa kita belum beranjak?" di dalam sana semakin terdengar suara kakek-kakek mengobrol, nenek yang mengeluh lelah, tangisan bayi, dan desah lelah penantian para penumpang. setelah menunggu sekian lama kendaraan itupun bergerak perlahan. tak lama ia berjalan ia pun berhenti dan begitu seterusnya. hampir setiap satu meter perjalanan ia berhenti. penumpang pun makin riuh karena keadaan sudah mulai penuh sesak namun kendaraan itu tak bergeming. ia tetap berjalan sesuai kehendak sang supir dan kernet. jarak yang sebenarnya tidak begitu jauh menjadi seperti perjalanan dari kota kembang ke kota metropolitan. tibalah waktunya kami untuk turun dari kendaraan tersebut. kami pun tidak tahu bagaimana cara keluar dari kendaraan tersebut. pintu keluar depan maupun belakang dipenuhi oleh para penumpang yang sedari tadi sudah berdiri tegar. tuhan pun masih menyayangi kami, kami berhasil keluar dari kendaraan itu dan berkata "UNTUNG KAMI MASIH HIDUP."
SEPERTI INILAH YANG KAMI ALAMI