Ada risau yang siap menikam bagai pisau. Makin ku asah risau itu, makin besar pula kemungkinan ia menancap di tubuhku. Pedih memang, tapi yasudahlah. Aku hanya risau pada kamu yang memukau, yang membuat setiap kilau meredupkan pukau.
Kamu terlalu berkilau, seperti bintang di atas sana. Kamu terlalu tinggi, seperti bintang di atas sana. Kamu terlalu indah, seperti bintang di atas sana. Aku terlalu sayang, seperti kasih seorang anak pada ayahnya di bawah sini.
Jika kesempatanku hanya bisa menemanimu beberapa saat, aku tak apa. Hanya saja lengkung bibirku perlahan bergerak turun, banyak titik berjatuhan dari mataku, dan jantung ini kembali bergerak perlahan.
Aku terlalu diam, sampai kamu pun geram. Aku terlalu diam, sampai kamu pun padam. Aku terlalu diam, sampai kamu pun temaram.
Aku memang diam. Hanya saja jantung, pikiran, dan rasaku yang selalu tak bisa diam. Sayangnya, kamu tak suka diam.