tanpa judul

tanpa judul

18.9.12

kalau boleh aku bertukar peran, kepada bintang-lah peran ini akan ku tukar. agar aku selalu memberikan terang pada setiap mereka yang gelap. agar aku selalu memberikan contoh sabar atas penantian waktunya hingga akhirnya seterang itu. agar aku selalu menjelaskan apa arti bersyukur, karena setiap bintang pasti bersinar. dan yang terpenting agar aku selalu berada di atas sana, dekat dengan letakmu, Pak.
"aku ga pernah tau seberapa jauh jarak dunia dan akhirat. aku cuma tau doa aku buat bapak ga pernah berjarak."

"aku ga pernah tau di mana kita akan bertemu lagi. aku cuma tau bapak selalu ada dalam setiap nafas, detak, dan darah yang mengalir di tubuh ini."

"aku ga pernah tau seberapa lama perbedaan waktu dunia dan akhirat. aku cuma tau nanti akan ada waktu yang sama buat kita."

"aku ga pernah tau kenapa aku terus-menerus ga tau. aku cuma tau aku terus-menerus sayang bapak."

2.8.12

jarak

aku baru pertama kali bertemunya kemarin. belum banyak yang kita bicarakan. tapi sepertinya kami akan segera berteman, atau bahkan bersahabat. percayalah, aku tak terbiasa langsung bersahabat dengan siapapun. tapi aku percaya ia baik. sangat baik. ah sudahlah, ia pasti memang baik. entah berapa garis yang terbentang pada penggaris yang kita miliki. jarak.

10.7.12

teruntuk kamu..

Ada risau yang siap menikam bagai pisau. Makin ku asah risau itu, makin besar pula kemungkinan ia menancap di tubuhku. Pedih memang, tapi yasudahlah. Aku hanya risau pada kamu yang memukau, yang membuat setiap kilau meredupkan pukau.


Kamu terlalu berkilau, seperti bintang di atas sana. Kamu terlalu tinggi, seperti bintang di atas sana. Kamu terlalu indah, seperti bintang di atas sana. Aku terlalu sayang, seperti kasih seorang anak pada ayahnya di bawah sini.


Jika kesempatanku hanya bisa menemanimu beberapa saat, aku tak apa. Hanya saja lengkung bibirku perlahan bergerak turun, banyak titik berjatuhan dari mataku, dan jantung ini kembali bergerak perlahan.


Aku terlalu diam, sampai kamu pun geram. Aku terlalu diam, sampai kamu pun padam. Aku terlalu diam, sampai kamu pun temaram.


Aku memang diam. Hanya saja jantung, pikiran, dan rasaku yang selalu tak bisa diam. Sayangnya, kamu tak suka diam.

21.6.12

terang BEndeRANG..

pernah pada suatu siang yang terang, ia berang. entah karena ia silau dengan sinar si bintang besar di langit sana, atau karena ada bintang lain yang membuatnya tak sanggup membuka mata untuk melewati hari ini. ia hanya sanggup menutup matanya, di mana dalam setiap pejaman matanya menitih setetes air. entahlah, siang yang terang itu ternyata mendung untuk langitnya. ya! karena langitnya dan langit mereka berbeda.

3.6.12

berdindinglah dan kau pun akan senang. :p

"Bercermin" ah sudah biasa itu, kali ini aku mencoba untuk "berdinding." hehe, konyol memang, tapi yaah biar saja, mereka hanya belum mencobanya. YA! berdinding, di situ kamu bisa melihat sisi hitam dirimu, sebut saja itu bayangan (ya memang itu bayangan). Tapi tunggu dulu, pernahkah kamu memperhatikan bayanganmu? memperhatikan ketika yang kau lihat hanya bentuk hitam yang menyerupai-mu tanpa terbersit sedikitpun kata "wow, cantik banget gue / ganteng kan gue." YA! seperti yang saya bilang, ia hanya memberikan sisi gelap dirimu, sisi yang tidak biasanya diberikan oleh cermin, sisi yang memaksa mu untuk mengetahui hal terang apa yang kau punya. Di sana semua hitam, hanya bentuk kepala beserta rambut, badan, tangan, dan kaki yang dapat kau lihat. YA! di situ lah letak keadilan tembok, dia tidak mengambarkan seperti apa yang ada di wajahmu. Maka berdindinglah dan semua akan bahagia. #apeu

30.5.12

:')

Semalam mendung, bintang murung. Kini fajar datang, tentunya bersama bintang yang lebih terang. Namun, semua belum usai, masih ada angin yang melambai, membawa awan badai. Akankah ini usai?

21.5.12

hari yang ber-Hary

" perasaan diproyeksikan dalam bentuk susunan sistematis dan diaplikasikan dengan kata-kata." Entah apa sebenarnya perasaan itu, apakah ia dapat diraba, dilihat, dirasa, dicium, dipeluk, digenggam? Ah sudahlah, katanya alasan yang menjadikan perasaan itu ada tidaklah penting. YA! saya tau alasan itu memang tidak penting, karena yang terpenting adalah anda yang menjadi bagian dari semua perasaan itu. YA! Hary yang membuat hari-hari saya ber-Hary. :))

18.4.12

pementasan alam

malam datang, kali ini ia tidak sendiri. yaa, malam datang bersama kawan lamanya, hujan. mereka akrab, namun akhir-akhir ini mereka jarang bersama, mungkin mereka sama-sama sibuk. ah biarlah, biar mereka mengatur urusannya masing-masing. 

masing-masing yang saling menyapa ku petang tadi. ramah sekali mereka hari ini, datang bersama beriringan. keduanya sama-sama menyapa dengan 'dingin-nya', tapi tak apa, aku suka. aku suka ketika hujan perlahan menyapa ku dengan membasahi tubuhku, menghapuskan debu-debu yang menempel gegara aku tak sempat mandi. hehe, aku tau ia sangat baik, makanya ia membantu ku membersihkannya. bersih, iya bersih sekali tubuhku petang ini setelah dibasahi hujan dan dibantu malam mengeringkan tubuhku dengan hembusan anginnya.

angin yang membawa mereka menontonku. ah, tega sekali mereka hanya menonton ku, membiarkan aku sendiri menjadi lakonnya. eh tunggu, kali ini aku bukan lakon satu-satunya. ada lakon lain selain aku, ya mungkin saja malam dan hujan sengaja hanya menonton ku.

menonton ketika aku berdiri bersama lakon lainnya. berdiri sembari sayup-sayup terdengar hembusan angin yang seolah menyampaikan gelak tawa sang malam, dan tak ketinggalan suara musik-musik karya sang maestro hebat, hujan. ah mereka berdua memang pandai, pandai membuat semua ini serasa aku benar-benar di atas panggung pementasan. HIH, memang iya sekarang aku sedang berada di pementasan itu. lalu, siapa produsernya? sutradaranya? ah sudahlah, pasti malam dan hujan sudah berkonspirasi dengan alam. curang memang mereka. selalu saja berbuat diam-diam tanpa seijin ku.

ijin? buat apa ijin? untuk memperjelas akhir dari pementasan ini? ah baiklah, aku menyerah. menyerahkan semua pada konspirasi kalian. selamat kalian menang. maka menangkanlah aku pula dalam pementasan ini. :))

14.4.12

MALAM

malam datang, menggantikan siang. siang yang terang, terik, panas. siang yang penuh emosi, terburu-buru, berkeringat. memang siang hebat, ia memberi kesempatan untuk semua orang terburu-buru mengejar waktu, mencapai keinginannya, tapi saya lebih suka malam. malam yang gelap, dingin, dan damai. 

gelap yang membuat saya suka untuk memerhatikan lampu-lampu kota dikala malam. lampu yang mengajak diri untuk berefleksi, dimana ia di-ibarat-kan sebagai hingar-bingar kehidupan, yang semuanya terang, berkilau, berwarna, kemudian  kamu hanya memilih satu cahaya yang akan membawa mu ke tempat terang sesungguhnya.

gelap juga membawa bintang-bintang hadir untuk bersinar. mereka indah. mereka tampak kecil. mereka hebat. yaa memang mereka hebat, karena mereka sabar menunggu dengan waktu yang cukup lama agar tampak di bumi dan menyinarinya. mereka juga hebat, karena tidak saling iri, mereka tau bahwa mereka semua memiliki sinarnya sendiri. 

iya sendiri, sendiri menghembuskan udara dingin. malam memang begitu. ia dingin, dingin yang membuat mu memilih masuk ke dalam ruangan, mendekati perapian, menyelimuti tubuhmu dengan kain, dan sesekali meneguk teh atau kopi. kemudian tanpa kau sadari, sebenarnya malamlah yang memberi mu kehangatan.

hangat, sehangat tegukan kopi yang masuk ke kerongkonganmu  dan sekaligus menghangatkan hati mu. iya, malam memang baik. ia menghangatkan-mu, membuat mu merasa nyaman, dan memberikan kedamaian. seketika tanpa kau sadari semuanya terang, malam hilang.

14.3.12

koloni semut

Beberapa hari yang lalu kamar mandi kostan saya mengalami suatu kejadian unik, dimana para semut sedang sibuk bertransmigrasi disana. Awalnya saya tidak berpikir macam-macam, hanya sekilas terbersit bahwa tempat awal mereka tinggal mungkin sedang dalam proses renovasi yang berhubungan dengan terjadinya perubahan suhu akhir-akhir ini. Namun, semakin saya mendiami keberadaan mereka saya merasa semakin terusik. Perlahan mereka mulai mengambil lahan-lahan saya untuk melakukan kegiatan yang berhubungan dengan aktivitas kamar mandi. Lalu aktivitas mereka pun berlanjut dengan mengambil setengah porsi nasi goreng saya untuk makan malam. Bahkan gelas kosong yang habis saya gunakan untuk meminum teh manis tak luput dari aktivitas mereka.

Saat itu saya masih berpikir "ah baiklah, tak apa berbagi rezeki dengan para semut." Tapi hari-hari berikutnya jumlah koloni mereka bertambah, entah ada berapa koloni semut yang mendiami kamar mandi saya waktu itu. Yang pasti, saya melihat ada empat ratu semut yang hilir-mudik mengawasi koloninya yang sedang memindahkan telur-telur mereka.

Agak prihatin melihat para koloni tersebut bekerja, entah berapa jauh jarak yang mereka tempuh untuk sampai ke kamar mandi saya sambil membawa dan melindungi telur-telur mereka. Tak heran begitu sampainya di kamar mandi saya mereka pun mengambil nasi goreng saya yang sedari awal saya letakkan jauh dari kamar mandi. Seperti halnya manusia, mereka pasti juga butuh makan dan minum, cuma cara mereka saja yang berbeda dengan kita.

Keesokan harinya dengan teramat sangat tidak tega saya memutuskan untuk mengusik keberadaan para koloni itu dengan menyemprotkan pengharum ruangan dan kapur tulis anti serangga disekeliling mereka. Tak ada maksud apa-apa selain hanya ingin mereka pindah dari kamar mandi saya ke tempat yang lebih layak untuk mereka. Karena seperti yang kita ketahui semut tidak akan bertahan ditempat yang ada airnya, apalagi di dalam kamar mandi.

Saya tidak tega melihatnya, karena setiap koloni mereka bolak-balik di sekitar kamar saya, saya berpikir bahwa salah satu dari mereka pasti ada seekor ayah semut yang sedang bekerja untuk mencari nafkah. Sayapun teringat dengan ayah saya yang harus mengakhiri hidupnya dijalan akibat kecelakaan ketika ia pulang bekerja. Saya merasa sangat sulit untuk beraktivitas disekitar mereka. Saya takut tidak sengaja menginjaknya dan membuat beberapa ekor semut menjadi yatim. Akhirnya saya memutuskan untuk memaksa mereka bertransmigrasi kembali demi kehidupan yang lebih layak.

10.2.12

menutupi atau menunjukkan?

" Jadi menurut kalian cadar itu untuk menutupi atau menunjukkan?"

Nah, jangan dijawab dulu pertanyaan di atas ya,karena kata- kata itu sengaja gue kutip dari omongan dosen prose gue pas smester 1, doi kece banget kalo udah ngomong. #tsah Sebenernya agak bingung juga sih sama pertanyaan yang gue quote itu, maksudnya bingung juga mau jawab gimana. Akan tetapi, baru-baru ini gue baru aja ngalamin kejadian yang bikin gue mikir hal yang sama kaya kata-kata dosen gue itu.

Jadi gini, seonggok telpon seluler yang gue kira udah gak berfungsi (bunyi gak pernah, LED gak pernah nyala) tiba-tiba aja berbunyi dan lampunya nyala-nyala, tanpa pikir macem-macem langsung aja gue liat, dan ternyata seperti ini yang terjadi:

A: eh, mau ikut ngawas tryout ga? bales cepet yaa.
(pas selesai baca dan baru mau gue bales textnya tiba-tiba dia telpon ke nomer gue)

A: udah baca sms gue belom? gimana mau ga?
G: emang kapan, dimana?
A: sekarang, jam 09.30 lo udah ke rumah gue ya
G: (ngelirik ke jam, 09.10) hah, gue belom mandi nih. ada ketentuannya harus pake kemeja gak? soalnya kemeja gue di kosan semua.
A: yaudah cepetan mandi. enggak kok yang penting rapih, pake rok panjang sama kerudung aja.
G: yah, gue ga ada rok panjang gitu
A: mau dicari dulu roknya, siapa tau aja ada. kalo enggak pake celana juga boleh kok, tp atasannya panjang dibawah dengkul dan pake kerudung ya, kalo gak lo pake gamis aja
G: hah, gimana ya.. hmm.. nanti gue kabarin lagi ya
tut-tut-tut

Gak tau kenapa gue sedikit ngerasa aneh dengan percakapan gue sama temen gue itu. Dia bilang asalkan pakaian rapih tapi setelah itu dia nyebutin kriteria berpakaian seorang muslimah. Dia gak salah sih, cuma pakaian rapih yang ada di otak dia dan otak gue agak berbeda aja. Menurut gue lo pake kaos ga ketat dan celana jeans aja udah rapih dan cukup sopan, yah setidaknya kaos yang berkerah kaya polo shirt deh. Selama gue lagi mikir tentang percakapan yang tadi tiba-tiba temen gue telpon lagi.

A: gimana? mau gak?
G: yah, lain kali aja deh gue. gak ada gue pakaian yang kaya gitu
A: yaudah gpp pake pakaian biasa aja yang penting rapih dan sopan. pake kerudung ya.
G: yaah, tapi gue lagi dapet belom ngapus kuteks yang gue pake
A: oh gitu, jadi ga bisa nih sekarang
G: iya, sorry ya lain kali aja
tut-tut-tut

Oh iya, jadi kakanya temen gue itu kerja di salah satu tempat bimbingan belajar gitu, setau gue sih tempat bimbel itu bebas buat pemegang keyakinan apapun, tapi gue gak tau sih kalo aturan yang diharuskan untuk para pegawainya gimana. Sebenernya rada gak enak juga sih nolak ajakan temen gue, soalnya belagu betul gue ada tawaran kerja yang gampang dan dapet duit gitu masa gue tolak. Pada saat itu sih yang ada dipikiran gue bisa aja gue meng-iya-kan ajakannya dengan minjem gamis ibu gue, tapi gue mikir lagi masa orang pake gamis lengkap dengan kerudungnya tapi jari-jari kukunya memakai kuteks, warna merah pula yang mencolok. Gue sih mikirnya kalo gue bener-bener ngelakuin hal itu terkesan agak memaksakan aja, karena biasanya kalo orang yang berpakaian kaya yang temen gue anjurkan itu yaa orang yang emang bener-bener udah mengikuti perintah-Nya dengan baik, sedangkan kuteks aja agaknya tabu untuk digunakan orang-orang seperti mereka.

Mungkin ini semua gue aja yang terlalu berlebihan menanggapi perbicaraan kita, atau dia yang emang terlalu berlebihan dengan hal-hal tersebut. Sebenernya menutup aurat itu memang wajib hukumnya oleh agama, terutama untuk wanita, tapi kalo kasusnya kaya tadi gue jadi mikir hal yang sama kaya dosen gue, jadi itu untuk menutupi atau menunjukkan ya?