tanpa judul
20.12.11
.
kalau dunia ini diibaratkan selebar kertas hvs ukuran A4, maka saya hanyalah sebuah titik diujung kertas yang muncul karena ketidak sengajaan orang menjatuhkan pensil tepat diatasnya, sehingga mengakibatkan ia tampak. Jika orang itu sadar dengan titik tersebut, mungkin dia akan menghapusnya agar terlihat bersih, atau mungkin ujung kertas itu disobek untuk menghilangkan titik itu. Yaah, karena ada atau tidak titik itu, hvs tersebut masih bisa digunakan dan sangat berguna.
24.11.11
2510-2511
tepat sebulan yang lalu saya memiliki angka 9 yang menggantikan posisi angka 8 dibelakang angka 1 yang telah setahun menemani dalam suka dan duka. tsssaaah. entah apa yang saya rasakan pada hari itu, bisa dikatakan nanonano, ya karena sedih, senang, kaget, lucu, khawatir menjadi satu. saya berterimaksih sekali kepada Allah masih mempercayai saya dengan memberikan angka 9 dibelakang angka 1 untuk menjalani kehidupan kedepan, meskipun saya sendiri tidak tau bagaimana kisah saya bersama angka 9 ini selama satu tahun kedepan. selain berterimakasih kasih kepada yang mempunyai hidup, saya juga ingin berterimakasih kepada semuanya yang berpartisipasi pada hari itu. *sekilas terbaca seperti pidato ketua himpunan setelah acara selesai* hahaha.
yah, baik 8 maupun 9 yang ada dibelakang angka 1 bagi saya semuanya tetap merupakan anugerah selama masih dikelilingi oleh Allah, ibu, kakak, bapak(invisible), keluarga besar, sahabat, teman, dan musuh. tanpa mereka saya seperti jalur gaza yang terus menerus diserang oleh Israel.
kebahagian tak hanya milik saya dibulan itu, melainkan seluruh keluarga besar saya. hal itu terjadi karena sebagian besar keluarga saya lahir di bulan Oktober. entah ada konspirasi apa ketika mereka melakukannya. hehe. mulai dari 2 orang tante, 2 orang om, adik sepupu, dan 4 orang sahabat saya semuanya berulang tahun dibulan yang sama. ya untung sekali bulan itu menjadi ajang toko-toko kado untuk menghabiskan uang saya dan toko-toko makanan untuk menghabiskan uang mereka.
![]() |
| my birthday donuts |
![]() |
| surprised |
![]() |
| my birthday cake |
![]() |
| my birthday cup cakes |
![]() |
| me, anonymous, molly. :P |
![]() |
| Taty & me |
![]() |
| camel, wita, molly |
![]() |
| Milla's |
![]() |
| birthday family |
| ||||||||
| snows |
![]() |
| Ibu :* |
![]() |
| :) |
![]() |
| ijo primata |
22.11.11
' f '
dede, bapak bawa makanan buat kamu.
matahari mulai berjalan ke barat diiringi sekumpulan awan hitam dan rintik air yang turun darinya, ia masih terpaku di depan sebuah layar, dan sedari tadi tangannya tidak lepas menekan-nekan huruf yang tertulis di keyboard. entah apa sebenarnya yang sedang ia lakukan sampai membiarkan bunyi jam berdetik. raut mukanya sulit ditebak, terkadang kedua garis bibirnya bergerak simetris, gigi kuningnya terlihat, dan tak jarang hanya kerutan-kerutan menyerupai gambar ombak di dahi yang terlihat.
jarinya yang kasar terlihat tengah memilih huruf-huruf di keyboard, entah apa sebenarnya yang ingin ia tulis. matanya melirik ke plafon, mungkin ia berharap ada seekor cicak yang akan memberitahunya untuk menuliskan apa. yang ia tau 26 alfabet disana tidak bisa menemukan apa yang ia maksud.
telunjuknya menggerakkan kursor mengarah ke sebuah link berlambangkan 'f ', matanya bergerak ke kanan-kiri dan kemudian atas dan bawah, entah apa yang ia cari. setelah itu telunjuknya mengarah kesebuah tempat yang tepat berada disamping bola dunia, beberapa huruf ia tekan sehingga ada beberapa huruf yang muncul di tempat itu, Suryadi. matanya kembali bergerak ke kiri-kanan dan atas bawah. rautnya seakan berharap disamping bola dunia tersebut ia menemukan apa yang ia cari, entahlah, mungkin maksud dia sebenarnya ingin mendapatkan suatu hal dari bola dunia tersebut.
ya, bola dunia tersebut bisa memberikannya banyak hal, berupa kabar, foto, dan berbagai hal lainnya, tapi ia tidak pernah mendapatkan kabar dari kata yang selalu ia pilih untuk muncul di samping bola dunia tersebut.
15.11.11
hey anak pendiam
hey anak pendiam!
siapa yang tidak pernah menghiraukan mu, mengabaikan mu, menolak mu,memanfaatkan mu, meremehkan mu?
coba lihat kesini, disini, di sisi diam selain kau.
di sisi diam selain yang kau aku hanya milik mu seorang.
lihat lebih dekat! lebih jelas!
lihat?
ya, disini aku sama seperti kau.
10.11.11
Aku ingin menjadi awan, Bu.
"ibu lihat deh itu, itu bentuknya kaya gajah ya"
hari itu masih pukul 09.00, namun matahari seakan ingin berlari cepat untuk sampai di puncaknya. "panas yah bu, baju aku sampai basah." Aku hanya menggoyangkan kepala tanpa menghiraukan itu berupa anggukan atau gelengan. "masih jauh ya bu? aku udah cape. eh ibu, kenapa?"
Seketika sinar matahari hilang dari pandangan ku, digantikan gelap yang merasuk dan...
"bu, ibu, buuu..." Semua buram, berputar, hanya suara cemprengnya yang dapat aku kenali. Aku dimana?
"kenapa bu? jangan ngomong kaya gitu, ibu pasti kuat. ibu kenapa? matahari menyerang ibu lagi ya?"
Seketika aku tersadar di sebuah bidang datar dan empuk, disana dia telah berdiri disampingku, menggenggam tangan ku, dan membasahi pipi ku. Kali ini aku tau ada dimana, yah di tempat dimana telah 24 tahun aku tinggal. "ibu tadi kenapa? matahari nakal ya selalu bikin ibu kaya gitu. aku sebel sama matahari." Aku menggerakkan jari telunjuk ku yang lemah untuk menggapai bibirnya. "bukan matahari nak yang nakal, hanya ibu yang tidak pernah bisa melawannya." Aku mencoba untuk mengangkat badan ku yang terdiri dari sekumpulan tulang dan sedikit daging, lalu jari-jari peot ku menghapus tinta bening yang membasahi pipinya. "aku mau jadi awan bu, aku mau jadi awan untuk melindungi ibu dari matahari yang terus mengalahkan ibu." Aku hanya tersenyum mendengar perkataannya, seakan aku membayangkan ia benar-benar menjadi awan.
"Aku mau menjadi seperti awan yang selalu melindungi ibu dari serangan matahari, tapi aku tidak mau menjadi seperti awan tadi yang malah membasahi ibu." Jari-jari ku menyentuh dagunya dan seketika aku menatapnya tulus. "jangan khawatir nak, engkau mungkin bukan awan yang akan melindungi ibu dari teriknya sinar matahari yang mengundang vertigo itu datang, dan engkau juga bukan awan yang akan membawa badai dan menerpa ku, tapi engkau adalah engkau, seorang anak yang selalu menjadi penyejuk ku disaat suhu meningkat."
12.10.11
want you to know
*terdengar alunan lagu want you to know disertai lampu berwarna ungu yang menyala berkelap-kelip*
Ia hanya menoleh, seakan tau apa yang selanjutnya akan terjadi. Kemudian ia mendekati sumber suara itu dengan raut muka yang datar, lingkaran hitam terlukis jelas di kantung matanya bagaikan mata panda.. "waalaikumsalam, udah, sama tempe penyet, sendiri, di kosan." Ia menjawab pertanyaan disana seperti suara operator telepon yang telah terprogram dengan baik. Sementara di seberang sana terdengar suara lirih wanita paruh baya, suara itu seakan mewakilkan seberapa besar rasa rindunya. Ah, andai saja aku disana, di kota yang penuh dengan lalu-lalang orang ketika jam masuk pabrik dan usai pabrik. Aku pasti sudah bisa menciumnya, memeluknya, menghirup aroma tubuhnya, mendengar ceritanya, dan tidak membiarkannya sendiri. "kamu sendiri? emang temen-temen kamu pada kemana?" kembali suara itu terdengar. " iya, yang lain masih di kampus jadi.." "eh, kaka kamu tuh, ibu capek sama dia, capek bilanginnya, suara ibu sampai parau bicara sama dia, tenggorokan ibu sakit, badan ibu kurus kering, bisa-bisa nanti ibu mati berdiri nih gara-gara dia, dia ada tapi seakan gak pernah ada."
ah, andai saja dia masih ada, masih nampak, masih teraba, masih terendus, masih terdengar, masih sama ketika bibir ini bisa bergerak simetris di wajah semua orang, dan masih..
"eh, kamu masih dengerin kan? eh, yaudah deh kamu istirahat aja, nanti ditelepon lagi." Ia kembali membaringkan badannya di sebuah kasur yang terdapat noda tumpahan air di seprei, menarik bantal, menutupi mukanya, memeluk guling, ya karena hanya itu yang bisa ia peluk saat jauh dari mereka. Eh bapak, apa kabar? Udah lama gak ketemu. Tangan rapuhnya menarik kedua tangan besar dan memeluk erat tubuh gempal itu. Hangat, kehangatan itu masuk melalui pori-pori tubuhnya, meresap sampai ke dalam hati. Oh iya kenalin, dia selalu nemenin aku, dia baik, dia selalu ngelindungin aku, dia selalu buat aku tertawa, sama seperti yang selalu bapak lakukan.
*Want you to know you make me happy~* "hmm, hallo." "eh kamu lagi tidur ya, yaudah lanjutin lagi aja tidurnya, ibu cuma iseng." tut-tut-tut~
Ia terbangun masih dengan raut muka yang sama dan mengingat kejadiaan yang baru saja ia alami,tadi aku bertemu dengan dua pria, keduanya sangat aku sayangi, dimana satu diantara mereka telah diambil oleh pemilik-Nya dan satunya lagi akan segera diberikan oleh pemilik-Nya.
9.10.11
sombong itu aku
Aku itu sombong. Ya, aku sombong bagaikan seorang bocah yang baru bisa berjalan dan ingin pamer. Aku selalu mengajak kedua kaki ini untuk bergerak, aku tidak pernah merasakan letih, aku bahkan selalu memaksa kaki ini untuk berlari, berlari cepat melebihi apa yang aku mampu.
Aku sadar, sadar bahwa sebenarnya untuk berjalan pun aku masih tertatih, masih meraba, masih butuh penopang, dan tak jarang aku pun masih merangkak.
6.10.11
Hilang, dihilangkan dan mencoba untuk menghilangkan
Entah apa yang terjadi dengan bulan ini, yang pasti awal bulan ini telah dimulai dengan hal-hal konyol yang cukup menghibur. Yah, menghibur setidaknya cukup untuk gue. Hari itu gue bangun sekitar jam tujuh sementara perkuliahan akan dimulai jam 1/2 8, panik, karena buat mandi butuh waktu paling cepat 15 menit, belom lagi bikin sarapan, nyiapin hal ini-itu, dan mendaki gunung untuk nyampe kampus, sampe akhirnya gue memutuskan untuk mandi alakadarnya (basahin badan 1 kali, sikat gigi, cuci muka, keramas poninya doang). Puji Allah, kuliah pun selesai, pas mau balik tiba-tiba ada temen yang ngajakin ngambil potokopian tugas, sampailah kami di potokopian negara tetangga. Semua berjalan biasa aja kaya orang kebanyakan yang lagi nungguin kertas potokopian selesai dipotokopi, sampai akhirnya datang seorang yang ga asing lagi menurut gue, entah harus seneng atau sedih. Seneng karena ga nyangka bisa ketemu orang itu di tempat yang se-sempit itu yang memungkinkan jarak diantara kita pun semakin sempit dan sedih karena tempat sempit itu ternyata tidak memberikan kesempatan kepada jarak untuk mempersempit batasannya. *tsaaah* Mencoba untuk bersikap sebiasa mungkin ternyata emang susah banget, rasanya kaya di depan lo ada orang ngasih sepiring nasi goreng spesial+ati ayam+telor mata sapi, tapi lo baru nyadar pas mau ngambil itu ternyata depan lo jurang yang dalem, nah jadi serba salah kan mau terus maju dan jatoh apa diam di tempat tapi ngiler ngeliat makanan itu. Bodohnya tanpa sengaja kita bertemu lagi, kali ini di ruangan yang agak besar, yah ruangan itu tentunya juga memperbesar jarak kita dan memperbesar angan gue. Kembali hal bodoh pun terulang gue lakukan dan hal-hal bodoh lainnya pun terulang keesokan harinya.
Kali ini gue boleh sedikit bernafas lega karena untuk saat itu bukan gue yang melakukan hal bodoh itu, melainkan seseorang yang entah bisa dikatakan teman atau bukan. Gak seperti biasanya dosen ngadain quiz dengan soal yang udah dibuat sama mahasiswa/i-nya sendiri dan ditukar secara acak kepada mahasiswaa /i lainnya. Quiz berjalan lancar sampai akhirnya tiba waktu pengoreksian oleh si pembuat soal itu sendiri, tiba-tiba seorang teman bilang "bu, kertas punya saya belom dapet." dosen: "nama kamu siapa? ayo siapa yang meriksa punya dia?" seketika kelas hening, hanya mata yang bergerak ke sekitar mencari siapa pelakunya. Beberapa menit berlalu tapi belom ketemu juga, padahal cuma selembar kertas, dosen pun mulai ketawa kebingungan, sebenarnya sebagian orang telah mengacu pada suatu sosok yang emang udah dicurigain sampai ada yang nyeletuk dia kali bu (nunjuk ke orang di depannya) dia: "saya punya mawar kok bu bukan punya dia." dosen: "mawarnya mana? ga masuk ya? terus punya kamu dikoreksi siapa?" dia: "minggu kemarin saya ga masuk bu." muti: "apaan, lo masuk kok, lo duduk di samping gue minggu kemarin, gue inget banget." dia: "eh iya saya masuk bu tapi soalnya belom selesai jadi ga saya kumpulin." dosen : "kenapa ga bilang daritadi, kamu sebenernya ga berhak ikut quiz ini. yaudah lupain aja, pasti kertasnya keselip." Hal janggal itu dibiarkan menggantung sampai akhirnya si kribo cerita sama gue kalo dia ngeliat gerakan aneh dari "dia", gue pun cerita sama temen-temen gue dan Inan berhasil memecahkan teka-teki itu. Gak berapa lama ada juga temen yang bilang kalo si "dia" itu sebenernya udah ngerjain soal dan udah tukeran soal sama mawar tapi sayangnya saat itu si mawar ga masuk dan jadilah dia memegang dua soal dan dia lebih memilih kertas itu nampak hilang. Konyol banget emang akhirnya, karena ga ada yang nyangka bakal kejadian kaya gitu, hampir semua cuma mikir kalo itu berhubungan dengan mistis, secara kuliah di atas gunung masih mungkin hal-hal kaya gitu terjadi.
3.10.11
SASING C 2010
Diawali dengan mengucap bismillah saya akan memulai tulisan innn....*aelah lebih amat*
oke oke, setelah sekian lama tidak meluapkan rasa di situs ini, maka kali ini gue akan meluapkannya kembali. Jadi gini, kan gue kuliah di salah satu universitas negeri terkemuka di Indonesia udah satu tahunan ya.*sombong* Lucunya, meskipun udah satu tahunan kita bersama tapi satu sama lain masih aja kaku, malah mungkin ada yang masih belom kenal sama temen sekelasnya. Gak aneh lah ya, secara dia dateng dan masuk ke kelas buat belajar aja udah alhamdulillah banget. Nah, hal itu lah yang menyebabkan setelah satu tahunan lebih kita baru melakukan sesi foto bersama. *eaaa* Dan ini adalah sebagian dari hasil foto-fotonya,
8.6.11
Segalanya (harus) bisa membeli uang
Dimulai dari sebuah rasa ingin tau lalu meningkat ke sel-sel otak yang semakin mendesak untuk mengetahui apakah"UANG BISA MEMBELI SEGALANYA" ataukah "SEGALANYA BISA MEMBELI UANG"
UANG, satu kata yang terdiri dari EMPAT huruf namun bisa merubah seseorang. KOK BISA? yah, orang rela berubah dari jati dirinya yang asli menjadi seseorang yang sebenarnya bukan dirinya hanya untuk hal yang terdiri dari empat huruf tersebut. ANEH? banget! tapi sebenernya jaman sekarang hal kaya gini udah ga aneh lagi. "emang jaman dulu? mana gue tau, gue ga hidup dijaman dulu."
Balik ke masalah awal, sebenernya hal tersebut berdasarkan dari fakta dan bukan fiktif belaka. *oke,gue korban infotainment* Sejak menjadi mahasiswi di sebuah perguruan tinggi negeri terkemuka di Indonesia gue menjadi orang yang sangat memerhatikan lingkungan, tidak hanya yang berhubungan dengan go green tapi lebih mengarah kepada pemerhati lingkungan sekitar. Dosen gue bilang, kita belajar dan baca ga hanya dari buku. Apa yang kita lihat dalam hidup itu juga merupakan bacaan dan bergossip bersama teman di cafe juga merupakan ilmu.(Prabasmoro,2011) Gue setuju banget dengan pendapat dia. Disaat kita lagi jalan kemanapun coba deh nengok ke sekitar, kalian bakal nemuin hal-hal yang selama ini ga pernah kalian sadarin. Saking banyaknya hal yang bakal kalian temuin sampe-sampe kalian bakal nyadar kalo 'oh, ternyata seru banget ya ngebaca lingkunga sekitar.' Nah, hal-hal kaya gini nih yang bikin gue pengen tau banyak mengenai lingkungan sekitar gue. Disaat-saat lagi melihat-lihat sekitar gue tertuju pada satu hal yang berkaitan dengan EMPAT huruf tadi. Hal itu dimulai ketika gue membuka suatu situs jejaring sosial dan menemukan dunia sekitar gue telah berubah. Yah, berubah ke arah yang berkaitan dengan empat huruf tadi. Perubahannya signifikan banget. Secepat itu kah uang dapat merubah segalanya? Sampai-sampai merubah seseorang dapat berpikir "berpendidikan ga menjamin semuanya kalo kita sendiri ga bisa ngejaga mulut dan perilaku kita sendiri,sekarang mah yg penting punya duit yg banyakkk biar bisa ngelakuin apa aja yg kita inginkan dan ga perlu hanya cuma sirikkkk sama orang lain."you see the point?? Gue sendiri miris banget bacanya. Hal itu mengisyaratkan uang diatas segala-galanya(meskipun pada kenyataannya memang benar), tapi kenapa kita ga coba untuk mengubah persepsi itu menjadi "segalanya bisa membeli uang." Dalam konteks ini, segalanya yang gue maksud adalah cara-cara terpuji yang menunjukkan kadar kehormatan seseorang dalam melakukan hal-hal yang ingin dia capai. Itu lebih terhormat. Contoh, seseorang yang tidak berkecukupan, namun rajin dan pintar dia akan memperjuangkan seluruh usahanya untuk MEMBELI UANG. Maksud dari kata itu adalah dia berusaha sekuat tenaga agar menjadi orang sukses dan tidak akan merendahkan harga dirinya hanya demi uang (jujur, org yg berpendapat diatas tadi tidak menerapkan aturan ini), karena uang telah menjadi milik mereka atas usaha mereka memperjuangkan uang tersebut, maka dengan mudah uang itu akan datang tanpa harus melakukan tindakan yang menyimpang. Mudah bukan membuatnya. *oke,kali ini gue terpengaruh ucapan sebuah acara masak di TV*
Kebayang ga kalo semua orang udah berpikir kaya tadi? Kalo dibayangan gue sih kaya orang yang terjebak di arena sirkus dengan baju samaan terus jadi badut sirkus yang aaaaaaa~ *oke,kali ini gue korban iklan* Tapi untuk membahas hal ini sebenernya gue ga becanda, serius, sumpah seriusan. Gue turut bersedih ketika naluri pemerhati lingkungan gue muncul dan membaca suatu tulisan yang berpendapat seperti hal diatas tadi.
28.5.11
25.5.11
Bertemu dalam semu
Hari menjelang senja, kaki ini melangkah perlahan menuruni anak tangga dan memasuki sebuah ruangan yang ramai riuh dipenuhi oleh mahasiswa/i yang sedang kelaparan sambil sedikit berdiskusi dengan kawan (walaupun sebagian besar malah bergossip). Mata pun mengarah ke bangku-bangku yang berada di pojok ruangan tepat berada disamping jendela, yah tempat itu memang tempat favorite saya dan entah mengapa hari itu saya langsung tertuju pada bangku yang tepat berada disamping jendela. Diskusi pun dimulai, terlihat beberapa ide berterbangan dari satu kepala ke kepala lain dan terlontar dari satu mulut ke mulut lain. Badan yang telah seharian ini menopang pun seakan tidak mau berkompromi dengan kepala yang telah berasap berpikir dan mendengar mengenai berbagai ide yang terlontar, hal ini pun semakin menjadi-jadi ketika rasa kantuk menghampiri, sampai tiba akhirnya seorang kawan berceloteh. Celotehannya sangat membantu mengusir rasa kantuk yang menghinggapi, kamipun mengobrol dengan serius tanpa menghiraukan sekitar, ditengah obrolan kami tanpa sengaja mata ini pun menoleh ke arah jendela. Dengan sedikit heran dan bahagia kedua bola mata ini pun melihat sesosok pria yang tengah melirik mengarah kepada kedua bola mata saya. Sejenak kedua bola mata kami bertemu dalam semu dan dengan seketika berlalu. Ya, dia sosok yang selama ini saya perbincangkan setiap waktu, sosok yang selalu ada di dalam angan saya, sosok yang selalu menjadi bagian dari sekian banyak impian yang saya punya. Bibir ini tersenyum lebar, hati ini berdebar berirama jazz, angan ini melayang setiap saya mengingat bola mata saya dan bola matanya bertemu dalam semu. Ah, indah memang saat itu, sedetik pun sangat berarti bagi hati dan angan yang penuh dengan sejuta impian tentangnya. Meskipun saya tidak mengetahui maksud dari tatapannya yang sungguh singkat itu, tatapan yang belum pernah saya lihat sekalipun ia ada disamping saya. Heran memang, mengapa kedua bola mata kami harus bertemu dalam semu? Semu yang membuat angan ini selalu teringat tentangnya. Semu yang membuat hati ini terheran-heran mengapa seketika ia melirik tepat dihadapan saya? Semu yang membuat hari ini terasa sangat mudah sehingga dengan singkat dilalui dengan senyum tanpa arti dari bibir yang tak mampu berucap ini. Ah, mungkin ini semua hanya sebuah harapan dari hati yang semu pula, hati yang semu oleh tatapannya yang semu.
5.5.11
Jatuh Cinta dalam Diam
![]() |
Sebuah peribahasa mengatakan bahwa 'diam itu emas.' Peribahasa tersebut masih berlaku bagi beberapa orang pada saat ini. Namun, pada kenyataannya diam tidak selamanya emas, terutama dalam masalah hati. Kenapa saya katakan demikian? Masalah hati cenderung mengarah ke masalah percintaan bagi remaja. Nah, karena hati yang diam tentang cinta, maka hanya perasaan tersiksa yang ada. Menurut cara pandang saya, hati yang diam memendam semua perasaan akan terasa sangat tersiksa apabila tidak diungkapkan. Terlebih lagi ketika hati itu mulai berani menunjukkan apa yang ia rasakan, namun kenyataan tidak mendukungnya. Ironis memang, hanya rasa penyesalan yang tersisa. Penyesalan karena tidak sejak dulu HATI itu BICARA. Saya sendiri pun bingung mengapa harus ada peribahasa seperti itu? Mungkin saja kalau ada peribahasa 'mengatakan itu emas,' kenyataan tidak akan seperti ini. Yah,peribahasa memang hanya sekedar peribahasa. Makna sebenarnya yang terkandung dalam kalimat tersebut bukanlah seperti yang saya katakan, namun andai saja peribahasa itu diubah mungkin saja kenyataan pun akan berubah. :)
22.4.11
perekat
keluarga itu seperti perangko dengan amplop. ibarat surat yang mau dikirim, amplop membutuhkan perangko sebagai tanda yang juga berperan sebagai ongkos kirim. antara perangko dan amplop ada satu alat yang juga sangat berperan penting, yaitu lem. lem tersebut digunakan untuk merekatkan keduanya. sebenarnya banyak alat yang dapat digunakan untuk merekatkan keduanya, seperti nasi dan air liur, tapi biar lebih intelek maka kita gunakan saja lem.
kenapa saya mengatakan 'keluarga seperti perangko dan amplop?'
mari kita ibaratkan saja satu keluarga inti adalah perangko dan keluarga inti lainnya adalah amplop dan lem adalah kesatuan dari semua keluarga atau yang sering kita sebut keluarga besar. keduanya saling berhubungan. setiap orang di pelosok daerah manapun pasti mengetahui hal itu. suatu keluarga membutuhkan keluarga besar untuk menemaninya dalam suka dan duka. yah, sama saja seperti amplop tanpa perangko, apabila kita mau mengirim surat tapi amplop tersebut tidak ada perangko maka surat itu pun tidak dapat terkirim. bayangkan apa yang akan terjadi pada suatu keluarga besar apabila ia tidak terdiri dari beberapa keluarga inti. keluarga tersebut tentu saja tidak dapat lagi dikatakan sebagai keluarga besar, bahkan bisa saja tidak dapat lagi dikatakan berhubungan saudara.berkaitan erat memang hubungan perumpamaan ini.lem yang kita ibaratkan sebagai keluarga besar merupakan alat pemersatu antara satu keluarga inti dengan keluarga inti lainnya. apabila kita tidak menggunakan lem tersebut maka kita tidak dapat merekatkan kedua hal tersebut.
6.4.11
just start to do it
My friend whose name is Taty Yuniyarti argues, "JUST START TO DO IT!" The sound is easy to listen, but that's really hard to realize. I don't know where I have to start. I also don't know how to make it realize. I just have a WISH not WILL.
why?
Dear My Lord, I want to ask you a bit questions.
1. Why does my father have to go?
2. Why I've only known my dad for 15 years?
3. When my father and I can meet each other?
Firstly, I want to ask apologize to you for having that questions. I just want to know the reason, with the first word WHY?
I believe that you are real. I believe that you always beside me. and I know that I am just a smallest thing than you. I haven't regret with your decision. I hope you give the best place for my father. God, I know he keep watching me from above.
18.3.11
surat untuk bapak.
apa kabar pak?
seperti apa yah bapak sekarang? masih inget ga sama dede?
lama banget engga melihat wajah dan tak pernah mendengar suara bapak. hehe, masih gendut ga pak?
baik-baik aja kan disana? ga ada yang jahatin kan disana? amin,semoga aja engga ya.
maaf ya udah lama ga pernah ke makam bapak, bukannya dede udah lupain bapak tapi sekarang dede lebih banyak tinggal di Jatinangor jadi susah banget buat berkunjung kesana. pak, banyak banget loh cerita yang mau aku ceritain, dari mulai masalah kuliah sampai masalah kehidupan sehari-hari.sekarang aku udah ga nangis lagi dong kalo jauh dari ibu, aku juga udah bisa cuci baju sama ngegosok sendiri. hehe, aku jadi lebih rajin sekarang. aku sekarang juga udah jarang pulang pergi Tangerang-Jatinangor, aku udah bisa adaptasi sama lingkungan disini. oh iya, temen-temen aku disini baik-baik loh pak, mereka yang ngisi hari-hari aku selama disini. jadi ga usah khawatir ya kalo aku salah pergaulan disini, karena aku milihnya temen yang baik-baik kok. kapan-kapan main ya pak kesini, nanti aku ajak makan di Tali jiwo. :)
pak, aku pengen banget deh bisa meluk erat badan bapak yang gendut, pengen duduk dipangkuan bapak, ngeledekin egar bareng bapak, makan di luar bareng bapak, dimasakin nasi goreng putih sama bapak. aku kangen banget loh sama rasa nasi goreng putih bapak, soalnya setiap ibu buatin pasti rasanya beda. kapan yah aku bisa rasain itu lagi?
pak, dari sana bisa liat aku ga? kalo bapak bisa liat aku semoga aja bapak tersenyum ya sama semua hal yang udah aku lakuin. aku takut banget bapak sedih ngeliat aku. maaf ya pak kalo sampai saat ini aku belom bisa ngebanggain ibu sama bapak, tapi suatu hari nanti aku janji pasti ibu sama bapak bakal tersenyum bangga liat aku. oh iya, aku baik-baik aja kok disini, ibu sama egar juga baik, si egar kadang masih suka nyebelin sih. walaupun skripsi dia belom selesai juga tapi bapak jangan kecewa yah sama dia, doain aja ya pak yang terbaik buat egar sama aku.
pak, aku ga pernah tau kapan waktu itu tiba tapi aku cuma mohon sama Allah agar suatu hari nanti kita semua bisa kumpul bareng lagi ya. nanti kita disana jailin egar lagi ya, aku udah lama banget pengen jailin dia tapi ga ada temennya. nanti kalo kita ketemu disana jangan sombong yah, awas aja kalo lupa sama aku. hehe. baik-baik ya pak disana, aku selalu doain yang terbaik buat bapak dari sini.
28.2.11
gambaran masa depan
saya hidup bersama sebuah keluarga kecil yang boleh disebut sebagai keluarga berencana (Bapak,Ibu, satu anak laki-laki dan satu anak perempuan). keluarga kami hidup dengan bahagia, walaupun kesederhanaan meliputi keseharian kami. bapak dan ibu mendidik kami menjadi anak yang tidak tergantung pada uang, suatu waktu ia berkata "kalau ada ya dibeli tapi kalau tidak ada kan bisa puasa." entah mengapa kata-kata itu selalu melekat dipikiran saya, sehingga saya tidak terlalu bersifat konsumtif. mereka memberi kebebasan pada kami dalam menjalani kehidupan, contohnya dalam hal pendidikan. bapak yang notabene adalah seorang guru tentu tau pasti bagaimana cara mendidik anaknya dengan benar. mereka tidak pernah memaksa kami belajar atau bahkan menyita gadget kami disaat sedang menghadapi ujian, menurutnya apabila kami tidak belajar maka yang akan rugi adalah diri kami sendiri bukan diri bapak ataupun ibu.
keseharian kami penuh dengan humor, tidak jarang saya meledek bapak dan ibu dan begitu pula sebaliknya. ketika bapak telah tiada rumah kami terasa sepi, tidak ada lagi sosok yang selalu berkata "dede, bapak pulang bawa makanan banyak loh!" atau kata-kata yang bertujuan untuk menggoda kakak saya "kakak mirip narji yah de." haha, hal tersebut selalu membuat saya tertawa ketika mengingatnya. rumahpun semakin sepi ketika saya memutuskan untuk melanjutkan studi di Universitas Padjadjaran, tidak tega memang untuk meninggalkan ibu saya berdua dengan kakak. terlebih lagi kakak saya adalah tipe anak laki-laki yang suka keluar rumah untuk bermain bersama temannya. disaat sedang iseng ibu selalu menelpon saya, bisa sampai sepuluh kali dalam sehari ibu menelpon saya. jelas sekali bahwa ia sangat membutuhkan teman ngobrol. disaat ia sedang memakan makanan kegemaran saya dia pun teringat saya dan langsung menelpon saya, terkadang ia juga suka menelpon ketika ada suatu berita yang menurutnya harus saya ketahui sebagai informasi agar saya waspada. ketika saya sakit ibu lebih sering lagi menelpon, bisa hampir setiap beberapa jam sekali ia menelpon saya. saya sangat terharu ketika dia menelpon saya dan saya mencoba meyakinkannya bahwa saya baik-baik saja. yah, begitulah ibu. hampir setiap ibu selalu melakukan hal yang sama untuk anaknya.
perhatian dan kasih sayang yang diberikan mereka kepada saya membuat saya tidak enak hati. tidak enak karena saya belum bisa membalas itu semua dengan membahagiakan mereka. saya hanya ingin suatu hari nanti mengenakan toga bersama seluruh teman seangkatan saya di graha sanusi dan ibu tersenyum bangga sambil berkata "terimakasih anakku engkau telah berhasil melepaskan satu beban ibu, yaitu memberikan pendidikan yang layak untuk mu." membayangkannya saja saya sudah tersenyum lebar. tak lupa saya pun akan mendatangi makam bapak sambil berkata dipusarannya "hai pak, dede udah lulus jadi sarjana. jadi sekarang bukan dede lagi dong panggilannya." hehe. kalau ia masih hidup, pasti moment itu akan terasa lebih bahagia nanti. apalagi ketika nanti saya akan menikah, membayangkannya saja dada saya sudah sesak menahan tangis, terlebih ketika saya akan benar-benar mengalaminya. yaah, itu semua hanya sebuah gambaran dimasa depan, dimana saya akan berusaha membuat keluarga kecil saya tersenyum bangga dan saya akan memperbaiki nasib keluarga ini. yeah, I hope so.
21.2.11
terimakasih atas karunia-Mu
memiliki keluarga, sahabat, teman, dan musuh adalah hal-hal yang paling membahagiakan yang kita miliki selama hidup. kita tidak akan pernah tau apakah kita masih akan bertemu mereka dikehidupan yang lain.
kaki tak lebih rendah dari kepala
sore itu saya berjalan menyusuri etalase toko di sebuah mall, toko-toko tersebut menjual beraneka ragam barang dan jenis. ramai riuh disana. saya berjalan dengan santainya diantara keriuhan, tiba-tiba saya tertegun ketika melewati toko yang didalamnya terdapat susunan sepatu yang terpajang rapi. anganpun memulai hayalnya, benak ini mengaggap bahwa tak ada bedanya sepatu tersebut dengan wanita. mereka indah, mereka anggun, mereka mahal, tidak sembarang orang yang dapat memilkinya. hanya orang-orang yang mempunyai cukup uang dan size serta tipe yang sesuai dengan kehendak hati yang dapat memiliki salah satu diantara mereka. meskipun mereka dipakai oleh kaki yang letaknya lebih rendah dari kepala, namun mereka tidak serendah yang tergambarkan. mereka dapat memberikan kenyamanan saat berjalan, mereka dapat melindungi kaki dari hal-hal yg berbahaya, mereka dapat memberikan keindahan pada kaki yang menggunakannya. sepatu akan terlihat lebih indah apabila ia diajak untuk melangkah ke tempat-tempat yang indah dan bermanfaat. sepatu tersebut akan menyimpan semua hal menarik, pengalaman dan berbagai memori yang indah selama kamu melangkah di jalan yang benar.
18.2.11
mimpi berarti segalanya?
kurang lebih empat tahun yang lalu gue pernah ngalamin hal ini, dan sekarang hal itu datang lagi. pada suatu malam dihari yang ke 1460 lalu, gue tertidur lelap dan mengalami suatu hal yang disebut mimpi. mimpi itu menggambarkan suatu hal yang akan terjadi sama bapak gue, dalam keadaan itu digambarkan ia akan meninggal tepat di ulang tahunnya yang ke 47tahun. disaat gue beranjak dari lelapnya mimpi itu , air matapun sudah membasahi wajah. setahun berlalu setelah mimpi itu semuapun baik-baik saja, sampai akhirnya tepat pada tanggal 11 Januari 2008 ia pun meninggal tepat pada umur yang ke-47thn akibat kecelakaan. tiba-tiba, pagi ini gue terbangun oleh sebuah kejadian alam bawah sadar yang sama. kali ini tentang kakak gue, didalam mimpi itu tergambar hal yang sama dan pada hari ulang tahunnya juga. gue berharap hanya sekali mimpi itu benar, gue ga mau ada lagi yang berkurang dari keluarga gue.
ya Allah, saya menyerahkan semuanya pada-Mu. saya harap engkau senantiasa memberikan perlindungan bagi keluarga saya dan menjauhkan segala hal yang akan menimbulkan kesedihan bagi kami. amin
terkena virus 'sukazakii'
Dikutip dari situs Fakultas Pertanian IPB, Enterobacter sakazakii (dibaca: enterobakter sakazaki-ai) merupakan salah satu patogen gram negatif yang sangat mematikan pada bayi baru lahir, usia 0-6 bulan. Sementara bakteri Sakazakii merupakan ancaman bagi bayi berusia 6-12 bulan.
nah, itu adalah hal yang lagi nge-hits di Indonesia. ibu-ibu lagi pada khawatir soal susu formula yang mengandung bakteri sakazakii. beda hal sama gue, ibu-ibu lagi repot ngurusin sakazakii sedangkan gue lagi sibuk ngurusin virus 'sukazaki.' yaah,hal tersebut cuma gue dan teman-teman kuliah gue yang ngerti.yup,virus itu bahaya banget bagi bayi dan tentunya virus itu juga bahaya banget bagi gue, karena virus itu sudah mulai menggerogoti pikiran gue. supaya tidak terjadi hal-hal yang tidak diinginkan, maka tolong untuk segera dicarikan penawarnya! \(*__*)/
10.1.11
sepuluh januari
sepuluh januari tiga tahun yang lalu. hanya secuil kisah yang aku ingat. aku hanya ingat ketika ia menawarkan makanan. aku hanya ingat ketika ia membelikannya untuk ku. aku ingat ketika kami tidak makan bersama. aku ingat ketika ia pamit. aku pun ingat wajahnya. tapi aku lupa suaranya yang dapat menentramkan hati. aku lupa ketika ia berlalu. dan aku pun lupa mengapa sampai akhir tak dapat bertemunya?
wahai sepuluh januari, andai saja waktu itu engkau dapat menceritakan apa yang akan terjadi pada sebelas januari.
8.1.11
maaf
maafkan saya yang selalu meminta
maafkan saya belum memberi apapun
maafkan saya tidak membahagiakan
maafkan saya tidak seperti mereka
dan MAAFKAN SAYA yang SELALU MEMINTA
mereka dan dunia nya
kita sama
kita manusia
kita saling kenal
kita saling akrab
namun mengapa dunia kita berbeda ?
DAM(n)RI
hari itu kami memutuskan berjalan-jalan kesuatu tempat untuk menghilangkan kepenatan setelah hari kemarin baru saja dilanda cobaan yaitu UAS tiga matkul sekaligus. --"
kami merasa bahagia bisa tertawa bersama dan menghabiskan waktu bersama, karena jarang sekali kami bepergian jauh seperti itu. kami sangat menikmati kebersamaan hari itu. kami tidak mau melewatkan moment sebelum kami masing-masing pergi berlibur. semua berjalan baik sampai pada saatnya kami harus kembali pulang menaiki sebuah sarana transportasi di kota itu. bersama kami berjalan melewati ramainya kota diiringi terik matahari siang itu. kami menaiki tangga kendaraan tersebut dan memilih bangku paling belakang. seseorang diantara kami memilih mengabadikan moment kebersamaan kami di dalam sana. tertawa, bergaya, dan menutupi wajah adalah hasil pengabadiannya. kami berada disana sejak pukul 13.00, seseorang diantara kami menoleh ke arah jam tangannya dan berkata, "sekarang sudah jam 13.45 dan kenapa kita belum beranjak?" di dalam sana semakin terdengar suara kakek-kakek mengobrol, nenek yang mengeluh lelah, tangisan bayi, dan desah lelah penantian para penumpang. setelah menunggu sekian lama kendaraan itupun bergerak perlahan. tak lama ia berjalan ia pun berhenti dan begitu seterusnya. hampir setiap satu meter perjalanan ia berhenti. penumpang pun makin riuh karena keadaan sudah mulai penuh sesak namun kendaraan itu tak bergeming. ia tetap berjalan sesuai kehendak sang supir dan kernet. jarak yang sebenarnya tidak begitu jauh menjadi seperti perjalanan dari kota kembang ke kota metropolitan. tibalah waktunya kami untuk turun dari kendaraan tersebut. kami pun tidak tahu bagaimana cara keluar dari kendaraan tersebut. pintu keluar depan maupun belakang dipenuhi oleh para penumpang yang sedari tadi sudah berdiri tegar. tuhan pun masih menyayangi kami, kami berhasil keluar dari kendaraan itu dan berkata "UNTUNG KAMI MASIH HIDUP."SEPERTI INILAH YANG KAMI ALAMI
Langganan:
Postingan (Atom)


















