tanpa judul

tanpa judul

18.4.12

pementasan alam

malam datang, kali ini ia tidak sendiri. yaa, malam datang bersama kawan lamanya, hujan. mereka akrab, namun akhir-akhir ini mereka jarang bersama, mungkin mereka sama-sama sibuk. ah biarlah, biar mereka mengatur urusannya masing-masing. 

masing-masing yang saling menyapa ku petang tadi. ramah sekali mereka hari ini, datang bersama beriringan. keduanya sama-sama menyapa dengan 'dingin-nya', tapi tak apa, aku suka. aku suka ketika hujan perlahan menyapa ku dengan membasahi tubuhku, menghapuskan debu-debu yang menempel gegara aku tak sempat mandi. hehe, aku tau ia sangat baik, makanya ia membantu ku membersihkannya. bersih, iya bersih sekali tubuhku petang ini setelah dibasahi hujan dan dibantu malam mengeringkan tubuhku dengan hembusan anginnya.

angin yang membawa mereka menontonku. ah, tega sekali mereka hanya menonton ku, membiarkan aku sendiri menjadi lakonnya. eh tunggu, kali ini aku bukan lakon satu-satunya. ada lakon lain selain aku, ya mungkin saja malam dan hujan sengaja hanya menonton ku.

menonton ketika aku berdiri bersama lakon lainnya. berdiri sembari sayup-sayup terdengar hembusan angin yang seolah menyampaikan gelak tawa sang malam, dan tak ketinggalan suara musik-musik karya sang maestro hebat, hujan. ah mereka berdua memang pandai, pandai membuat semua ini serasa aku benar-benar di atas panggung pementasan. HIH, memang iya sekarang aku sedang berada di pementasan itu. lalu, siapa produsernya? sutradaranya? ah sudahlah, pasti malam dan hujan sudah berkonspirasi dengan alam. curang memang mereka. selalu saja berbuat diam-diam tanpa seijin ku.

ijin? buat apa ijin? untuk memperjelas akhir dari pementasan ini? ah baiklah, aku menyerah. menyerahkan semua pada konspirasi kalian. selamat kalian menang. maka menangkanlah aku pula dalam pementasan ini. :))

14.4.12

MALAM

malam datang, menggantikan siang. siang yang terang, terik, panas. siang yang penuh emosi, terburu-buru, berkeringat. memang siang hebat, ia memberi kesempatan untuk semua orang terburu-buru mengejar waktu, mencapai keinginannya, tapi saya lebih suka malam. malam yang gelap, dingin, dan damai. 

gelap yang membuat saya suka untuk memerhatikan lampu-lampu kota dikala malam. lampu yang mengajak diri untuk berefleksi, dimana ia di-ibarat-kan sebagai hingar-bingar kehidupan, yang semuanya terang, berkilau, berwarna, kemudian  kamu hanya memilih satu cahaya yang akan membawa mu ke tempat terang sesungguhnya.

gelap juga membawa bintang-bintang hadir untuk bersinar. mereka indah. mereka tampak kecil. mereka hebat. yaa memang mereka hebat, karena mereka sabar menunggu dengan waktu yang cukup lama agar tampak di bumi dan menyinarinya. mereka juga hebat, karena tidak saling iri, mereka tau bahwa mereka semua memiliki sinarnya sendiri. 

iya sendiri, sendiri menghembuskan udara dingin. malam memang begitu. ia dingin, dingin yang membuat mu memilih masuk ke dalam ruangan, mendekati perapian, menyelimuti tubuhmu dengan kain, dan sesekali meneguk teh atau kopi. kemudian tanpa kau sadari, sebenarnya malamlah yang memberi mu kehangatan.

hangat, sehangat tegukan kopi yang masuk ke kerongkonganmu  dan sekaligus menghangatkan hati mu. iya, malam memang baik. ia menghangatkan-mu, membuat mu merasa nyaman, dan memberikan kedamaian. seketika tanpa kau sadari semuanya terang, malam hilang.