tanpa judul

tanpa judul

28.5.11

all I have to do is dream

Dijatuhi cinta sama halnya dengan dijatuhi rasa kantuk. Keduanya sama-sama akan mengalami 'MIMPI.'

25.5.11

Bertemu dalam semu

Hari menjelang senja, kaki ini melangkah perlahan menuruni anak tangga dan memasuki sebuah ruangan yang ramai riuh dipenuhi oleh mahasiswa/i yang sedang kelaparan sambil sedikit berdiskusi dengan kawan (walaupun sebagian besar malah bergossip). Mata pun mengarah ke bangku-bangku yang berada di pojok ruangan tepat berada disamping jendela, yah tempat itu memang tempat favorite saya dan entah mengapa hari itu saya langsung tertuju pada bangku yang tepat berada disamping jendela. Diskusi pun dimulai, terlihat beberapa ide berterbangan dari satu kepala ke kepala lain dan terlontar dari satu mulut ke mulut lain. Badan yang telah seharian ini menopang pun seakan tidak mau berkompromi dengan kepala yang telah berasap berpikir dan mendengar mengenai berbagai ide yang terlontar, hal ini pun semakin menjadi-jadi ketika rasa kantuk menghampiri, sampai tiba akhirnya seorang kawan berceloteh. Celotehannya sangat membantu mengusir rasa kantuk yang menghinggapi, kamipun mengobrol dengan serius tanpa menghiraukan sekitar, ditengah obrolan kami tanpa sengaja mata ini pun menoleh ke arah jendela. Dengan sedikit heran dan bahagia kedua bola mata ini pun melihat sesosok pria yang tengah melirik mengarah kepada kedua bola mata saya. Sejenak kedua bola mata kami bertemu dalam semu dan dengan seketika berlalu. Ya, dia sosok yang selama ini saya perbincangkan setiap waktu, sosok yang selalu ada di dalam angan saya, sosok yang selalu menjadi bagian dari sekian banyak impian yang saya punya. Bibir ini tersenyum lebar, hati ini berdebar berirama jazz, angan ini melayang setiap saya mengingat bola mata saya dan bola matanya bertemu dalam semu. Ah, indah memang saat itu, sedetik pun sangat berarti bagi hati dan angan yang penuh dengan sejuta impian tentangnya. Meskipun saya tidak mengetahui maksud dari tatapannya yang sungguh singkat itu, tatapan yang belum pernah saya lihat sekalipun ia ada disamping saya. Heran memang, mengapa kedua bola mata kami harus bertemu dalam semu? Semu yang membuat angan ini selalu teringat tentangnya. Semu yang membuat hati ini terheran-heran mengapa seketika ia melirik tepat dihadapan saya? Semu yang membuat hari ini terasa sangat mudah sehingga dengan singkat dilalui dengan senyum tanpa arti dari bibir yang tak mampu berucap ini. Ah, mungkin ini semua hanya sebuah harapan dari hati yang semu pula, hati yang semu oleh tatapannya yang semu.

5.5.11

Jatuh Cinta dalam Diam


Sebuah peribahasa mengatakan bahwa 'diam itu emas.' Peribahasa tersebut masih berlaku bagi beberapa orang pada saat ini. Namun, pada kenyataannya diam tidak selamanya emas, terutama dalam masalah hati. Kenapa saya katakan demikian? Masalah hati cenderung mengarah ke masalah percintaan bagi remaja. Nah, karena hati yang diam tentang cinta, maka hanya perasaan tersiksa yang ada. Menurut cara pandang saya, hati yang diam memendam semua perasaan akan terasa sangat tersiksa apabila tidak diungkapkan. Terlebih lagi ketika hati itu mulai berani menunjukkan apa yang ia rasakan, namun kenyataan tidak mendukungnya. Ironis memang, hanya rasa penyesalan yang tersisa. Penyesalan karena tidak sejak dulu HATI itu BICARA. Saya sendiri pun bingung mengapa harus ada peribahasa seperti itu? Mungkin saja kalau ada peribahasa 'mengatakan itu emas,' kenyataan tidak akan seperti ini. Yah,peribahasa memang hanya sekedar peribahasa. Makna sebenarnya yang terkandung dalam kalimat tersebut bukanlah seperti yang saya katakan, namun andai saja peribahasa itu diubah mungkin saja kenyataan pun akan berubah. :)