tanpa judul
25.5.11
Bertemu dalam semu
Hari menjelang senja, kaki ini melangkah perlahan menuruni anak tangga dan memasuki sebuah ruangan yang ramai riuh dipenuhi oleh mahasiswa/i yang sedang kelaparan sambil sedikit berdiskusi dengan kawan (walaupun sebagian besar malah bergossip). Mata pun mengarah ke bangku-bangku yang berada di pojok ruangan tepat berada disamping jendela, yah tempat itu memang tempat favorite saya dan entah mengapa hari itu saya langsung tertuju pada bangku yang tepat berada disamping jendela. Diskusi pun dimulai, terlihat beberapa ide berterbangan dari satu kepala ke kepala lain dan terlontar dari satu mulut ke mulut lain. Badan yang telah seharian ini menopang pun seakan tidak mau berkompromi dengan kepala yang telah berasap berpikir dan mendengar mengenai berbagai ide yang terlontar, hal ini pun semakin menjadi-jadi ketika rasa kantuk menghampiri, sampai tiba akhirnya seorang kawan berceloteh. Celotehannya sangat membantu mengusir rasa kantuk yang menghinggapi, kamipun mengobrol dengan serius tanpa menghiraukan sekitar, ditengah obrolan kami tanpa sengaja mata ini pun menoleh ke arah jendela. Dengan sedikit heran dan bahagia kedua bola mata ini pun melihat sesosok pria yang tengah melirik mengarah kepada kedua bola mata saya. Sejenak kedua bola mata kami bertemu dalam semu dan dengan seketika berlalu. Ya, dia sosok yang selama ini saya perbincangkan setiap waktu, sosok yang selalu ada di dalam angan saya, sosok yang selalu menjadi bagian dari sekian banyak impian yang saya punya. Bibir ini tersenyum lebar, hati ini berdebar berirama jazz, angan ini melayang setiap saya mengingat bola mata saya dan bola matanya bertemu dalam semu. Ah, indah memang saat itu, sedetik pun sangat berarti bagi hati dan angan yang penuh dengan sejuta impian tentangnya. Meskipun saya tidak mengetahui maksud dari tatapannya yang sungguh singkat itu, tatapan yang belum pernah saya lihat sekalipun ia ada disamping saya. Heran memang, mengapa kedua bola mata kami harus bertemu dalam semu? Semu yang membuat angan ini selalu teringat tentangnya. Semu yang membuat hati ini terheran-heran mengapa seketika ia melirik tepat dihadapan saya? Semu yang membuat hari ini terasa sangat mudah sehingga dengan singkat dilalui dengan senyum tanpa arti dari bibir yang tak mampu berucap ini. Ah, mungkin ini semua hanya sebuah harapan dari hati yang semu pula, hati yang semu oleh tatapannya yang semu.
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar