saya hidup bersama sebuah keluarga kecil yang boleh disebut sebagai keluarga berencana (Bapak,Ibu, satu anak laki-laki dan satu anak perempuan). keluarga kami hidup dengan bahagia, walaupun kesederhanaan meliputi keseharian kami. bapak dan ibu mendidik kami menjadi anak yang tidak tergantung pada uang, suatu waktu ia berkata "kalau ada ya dibeli tapi kalau tidak ada kan bisa puasa." entah mengapa kata-kata itu selalu melekat dipikiran saya, sehingga saya tidak terlalu bersifat konsumtif. mereka memberi kebebasan pada kami dalam menjalani kehidupan, contohnya dalam hal pendidikan. bapak yang notabene adalah seorang guru tentu tau pasti bagaimana cara mendidik anaknya dengan benar. mereka tidak pernah memaksa kami belajar atau bahkan menyita gadget kami disaat sedang menghadapi ujian, menurutnya apabila kami tidak belajar maka yang akan rugi adalah diri kami sendiri bukan diri bapak ataupun ibu.
keseharian kami penuh dengan humor, tidak jarang saya meledek bapak dan ibu dan begitu pula sebaliknya. ketika bapak telah tiada rumah kami terasa sepi, tidak ada lagi sosok yang selalu berkata "dede, bapak pulang bawa makanan banyak loh!" atau kata-kata yang bertujuan untuk menggoda kakak saya "kakak mirip narji yah de." haha, hal tersebut selalu membuat saya tertawa ketika mengingatnya. rumahpun semakin sepi ketika saya memutuskan untuk melanjutkan studi di Universitas Padjadjaran, tidak tega memang untuk meninggalkan ibu saya berdua dengan kakak. terlebih lagi kakak saya adalah tipe anak laki-laki yang suka keluar rumah untuk bermain bersama temannya. disaat sedang iseng ibu selalu menelpon saya, bisa sampai sepuluh kali dalam sehari ibu menelpon saya. jelas sekali bahwa ia sangat membutuhkan teman ngobrol. disaat ia sedang memakan makanan kegemaran saya dia pun teringat saya dan langsung menelpon saya, terkadang ia juga suka menelpon ketika ada suatu berita yang menurutnya harus saya ketahui sebagai informasi agar saya waspada. ketika saya sakit ibu lebih sering lagi menelpon, bisa hampir setiap beberapa jam sekali ia menelpon saya. saya sangat terharu ketika dia menelpon saya dan saya mencoba meyakinkannya bahwa saya baik-baik saja. yah, begitulah ibu. hampir setiap ibu selalu melakukan hal yang sama untuk anaknya.
perhatian dan kasih sayang yang diberikan mereka kepada saya membuat saya tidak enak hati. tidak enak karena saya belum bisa membalas itu semua dengan membahagiakan mereka. saya hanya ingin suatu hari nanti mengenakan toga bersama seluruh teman seangkatan saya di graha sanusi dan ibu tersenyum bangga sambil berkata "terimakasih anakku engkau telah berhasil melepaskan satu beban ibu, yaitu memberikan pendidikan yang layak untuk mu." membayangkannya saja saya sudah tersenyum lebar. tak lupa saya pun akan mendatangi makam bapak sambil berkata dipusarannya "hai pak, dede udah lulus jadi sarjana. jadi sekarang bukan dede lagi dong panggilannya." hehe. kalau ia masih hidup, pasti moment itu akan terasa lebih bahagia nanti. apalagi ketika nanti saya akan menikah, membayangkannya saja dada saya sudah sesak menahan tangis, terlebih ketika saya akan benar-benar mengalaminya. yaah, itu semua hanya sebuah gambaran dimasa depan, dimana saya akan berusaha membuat keluarga kecil saya tersenyum bangga dan saya akan memperbaiki nasib keluarga ini. yeah, I hope so.
