tanpa judul

tanpa judul

24.11.11

2510-2511

tepat sebulan yang lalu saya memiliki angka 9 yang menggantikan posisi angka 8 dibelakang angka 1 yang telah setahun menemani dalam suka dan duka. tsssaaah. entah apa yang saya rasakan pada hari itu, bisa dikatakan nanonano, ya karena sedih, senang, kaget, lucu, khawatir menjadi satu. saya berterimaksih sekali kepada Allah masih mempercayai saya dengan memberikan angka 9 dibelakang angka 1 untuk menjalani kehidupan kedepan, meskipun saya sendiri tidak tau bagaimana kisah saya bersama angka 9 ini selama satu tahun kedepan. selain berterimakasih kasih kepada yang mempunyai hidup, saya juga ingin berterimakasih kepada semuanya yang berpartisipasi pada hari itu. *sekilas terbaca seperti pidato ketua himpunan setelah acara selesai* hahaha.

yah, baik 8 maupun 9 yang ada dibelakang angka 1 bagi saya semuanya tetap merupakan anugerah selama masih dikelilingi oleh Allah, ibu, kakak, bapak(invisible), keluarga besar, sahabat, teman, dan musuh. tanpa mereka saya seperti jalur gaza yang terus menerus diserang oleh Israel.

kebahagian tak hanya milik saya dibulan itu, melainkan seluruh keluarga besar saya. hal itu terjadi karena sebagian besar keluarga saya lahir di bulan Oktober. entah ada konspirasi apa ketika mereka melakukannya. hehe.  mulai dari 2 orang tante, 2 orang om, adik sepupu, dan 4 orang sahabat saya semuanya berulang tahun dibulan yang sama. ya untung sekali bulan itu menjadi ajang toko-toko kado untuk menghabiskan uang saya dan toko-toko makanan untuk menghabiskan uang mereka.

my birthday donuts


surprised
my birthday cake

my birthday cup cakes
me, anonymous, molly. :P

Taty & me
camel, wita, molly
Milla's
birthday family
 
snows



Ibu :*

:)
ijo primata

22.11.11

' f '

dede, bapak bawa makanan buat kamu.

matahari mulai berjalan ke barat diiringi sekumpulan awan hitam dan rintik air yang turun darinya, ia masih terpaku di depan sebuah layar, dan sedari tadi tangannya tidak lepas menekan-nekan huruf yang tertulis di keyboard. entah apa sebenarnya yang sedang ia lakukan sampai membiarkan bunyi jam berdetik. raut mukanya sulit ditebak, terkadang kedua garis bibirnya bergerak simetris, gigi kuningnya terlihat, dan tak jarang hanya kerutan-kerutan menyerupai gambar ombak di dahi yang terlihat.

jarinya yang kasar terlihat tengah memilih huruf-huruf di keyboard, entah apa sebenarnya yang ingin ia tulis. matanya melirik ke plafon, mungkin ia berharap ada seekor cicak yang akan memberitahunya untuk menuliskan apa. yang ia tau 26 alfabet disana tidak bisa menemukan apa yang ia maksud.

telunjuknya menggerakkan kursor mengarah ke sebuah link berlambangkan 'f ', matanya bergerak ke kanan-kiri dan kemudian atas dan bawah, entah apa yang ia cari. setelah itu telunjuknya mengarah kesebuah tempat yang tepat berada disamping bola dunia, beberapa huruf ia tekan sehingga ada beberapa huruf yang muncul di tempat itu, Suryadi. matanya kembali bergerak ke kiri-kanan dan atas bawah. rautnya seakan berharap disamping bola dunia tersebut ia menemukan apa yang ia cari, entahlah, mungkin maksud dia sebenarnya ingin mendapatkan suatu hal dari bola dunia tersebut.

ya, bola dunia tersebut bisa memberikannya banyak hal, berupa kabar, foto, dan berbagai hal lainnya, tapi ia tidak pernah mendapatkan kabar dari kata yang selalu ia pilih untuk muncul di samping bola dunia tersebut.

15.11.11

hey anak pendiam

hey anak pendiam!
siapa yang tidak pernah menghiraukan mu, mengabaikan mu, menolak mu,memanfaatkan mu, meremehkan mu?

coba lihat kesini, disini, di sisi diam selain kau.
di sisi diam selain yang kau aku hanya milik mu seorang.
lihat lebih dekat! lebih jelas!

lihat?
ya, disini aku sama seperti kau.

10.11.11

Aku ingin menjadi awan, Bu.

"ibu lihat deh itu, itu bentuknya kaya gajah ya"

hari itu masih pukul 09.00, namun matahari seakan ingin berlari cepat untuk sampai di puncaknya. "panas yah bu, baju aku sampai basah." Aku hanya menggoyangkan kepala tanpa menghiraukan itu berupa anggukan atau gelengan. "masih jauh ya bu? aku udah cape. eh ibu, kenapa?" 

Seketika sinar matahari hilang dari pandangan ku, digantikan gelap yang merasuk dan...
"bu, ibu, buuu..." Semua buram, berputar,  hanya suara cemprengnya yang dapat aku kenali. Aku dimana?
"kenapa bu? jangan ngomong kaya gitu, ibu pasti kuat. ibu kenapa? matahari menyerang ibu lagi ya?" 
Seketika aku tersadar di sebuah bidang datar dan empuk, disana dia telah berdiri disampingku, menggenggam tangan ku, dan membasahi pipi ku. Kali ini aku tau ada dimana, yah di tempat dimana telah 24 tahun aku tinggal. "ibu tadi kenapa? matahari nakal ya selalu bikin ibu kaya gitu. aku sebel sama matahari." Aku menggerakkan jari telunjuk ku yang lemah untuk menggapai bibirnya. "bukan matahari nak yang nakal, hanya ibu yang tidak pernah bisa melawannya." Aku mencoba untuk mengangkat badan ku yang terdiri dari sekumpulan tulang dan sedikit daging, lalu jari-jari peot ku menghapus tinta bening yang membasahi pipinya. "aku mau jadi awan bu, aku mau jadi awan untuk melindungi ibu dari matahari yang terus mengalahkan ibu." Aku hanya tersenyum mendengar perkataannya, seakan aku membayangkan ia benar-benar menjadi awan. 

"Sini nak!" Sisa tenaga ku masih cukup untuk membawanya keluar dan menatap langit. "lihat bu, ada awan besar disana bu. lihat! sebentar lagi dia bergerak menutupi matahari. aku mau seperti dia bu, seperti dia." Awan itu bergerak pasti menghalangi sinar yang turun ke bumi. "Lihat, ada lagi, kali ini bentuknya seperti gajah bu, ya gajah itu terlihat ingin menyiramkan air dari belalainya untuk menyejukkan bumi bu."  Aku hanya bisa menatap wajahnya, wajah yang masih menyisakan risau meskipun ia tersenyum. "awan-awan itu baik ya bu, Ia melindungi orang-orang seperti ibu dari galaknya sinar matahari. tapi kok awan yang disebelah sana terlihat kelabu, apakah akan hujan bu?" Aku mengangguk mengiyakan semua perkataannya. "bu, air mulai turun dari sekumpulan awan-awan itu. semakin banyak bu, dan suara berisik apa itu bu? aku takut bu." Aku mencoba untuk menenangkannya, aku membawa ia masuk dan menghangatkan tubuh mungilnya yang sedari tadi gemetar.

"Aku mau menjadi seperti awan yang selalu melindungi ibu dari serangan matahari, tapi aku tidak mau menjadi seperti awan tadi yang malah membasahi ibu." Jari-jari ku menyentuh dagunya dan seketika aku menatapnya tulus. "jangan khawatir nak, engkau mungkin bukan awan yang akan melindungi ibu dari teriknya sinar matahari yang mengundang vertigo itu datang, dan engkau juga bukan awan yang akan membawa badai dan menerpa ku, tapi engkau adalah engkau, seorang anak yang selalu menjadi penyejuk ku disaat suhu meningkat."