"ibu lihat deh itu, itu bentuknya kaya gajah ya"
hari itu masih pukul 09.00, namun matahari seakan ingin berlari cepat untuk sampai di puncaknya. "panas yah bu, baju aku sampai basah." Aku hanya menggoyangkan kepala tanpa menghiraukan itu berupa anggukan atau gelengan. "masih jauh ya bu? aku udah cape. eh ibu, kenapa?"
Seketika sinar matahari hilang dari pandangan ku, digantikan gelap yang merasuk dan...
"bu, ibu, buuu..." Semua buram, berputar, hanya suara cemprengnya yang dapat aku kenali. Aku dimana?
"kenapa bu? jangan ngomong kaya gitu, ibu pasti kuat. ibu kenapa? matahari menyerang ibu lagi ya?"
Seketika aku tersadar di sebuah bidang datar dan empuk, disana dia telah berdiri disampingku, menggenggam tangan ku, dan membasahi pipi ku. Kali ini aku tau ada dimana, yah di tempat dimana telah 24 tahun aku tinggal. "ibu tadi kenapa? matahari nakal ya selalu bikin ibu kaya gitu. aku sebel sama matahari." Aku menggerakkan jari telunjuk ku yang lemah untuk menggapai bibirnya. "bukan matahari nak yang nakal, hanya ibu yang tidak pernah bisa melawannya." Aku mencoba untuk mengangkat badan ku yang terdiri dari sekumpulan tulang dan sedikit daging, lalu jari-jari peot ku menghapus tinta bening yang membasahi pipinya. "aku mau jadi awan bu, aku mau jadi awan untuk melindungi ibu dari matahari yang terus mengalahkan ibu." Aku hanya tersenyum mendengar perkataannya, seakan aku membayangkan ia benar-benar menjadi awan.
"Aku mau menjadi seperti awan yang selalu melindungi ibu dari serangan matahari, tapi aku tidak mau menjadi seperti awan tadi yang malah membasahi ibu." Jari-jari ku menyentuh dagunya dan seketika aku menatapnya tulus. "jangan khawatir nak, engkau mungkin bukan awan yang akan melindungi ibu dari teriknya sinar matahari yang mengundang vertigo itu datang, dan engkau juga bukan awan yang akan membawa badai dan menerpa ku, tapi engkau adalah engkau, seorang anak yang selalu menjadi penyejuk ku disaat suhu meningkat."
Tidak ada komentar:
Posting Komentar