tanpa judul

tanpa judul

8.6.11

Segalanya (harus) bisa membeli uang

Dimulai dari sebuah rasa ingin tau lalu meningkat ke sel-sel otak yang semakin mendesak untuk  mengetahui apakah"UANG BISA MEMBELI SEGALANYA" ataukah "SEGALANYA BISA MEMBELI UANG"
UANG, satu kata yang terdiri dari EMPAT huruf namun bisa merubah seseorang. KOK BISA? yah, orang rela  berubah dari jati dirinya yang asli menjadi seseorang yang sebenarnya bukan dirinya hanya untuk hal yang terdiri dari empat huruf tersebut. ANEH? banget! tapi sebenernya jaman sekarang hal kaya gini udah ga aneh lagi. "emang jaman dulu? mana gue tau, gue ga hidup dijaman dulu." 

Balik ke masalah awal, sebenernya hal tersebut berdasarkan dari fakta dan bukan fiktif belaka. *oke,gue korban infotainment* Sejak menjadi mahasiswi di sebuah perguruan tinggi negeri terkemuka di Indonesia gue menjadi orang yang sangat memerhatikan lingkungan, tidak hanya yang berhubungan dengan go green tapi lebih mengarah kepada pemerhati lingkungan sekitar. Dosen gue bilang, kita belajar dan baca ga hanya dari buku. Apa yang kita lihat dalam hidup itu juga merupakan bacaan dan bergossip bersama teman di cafe juga merupakan ilmu.(Prabasmoro,2011) Gue setuju banget dengan pendapat dia. Disaat kita lagi jalan kemanapun coba deh nengok ke sekitar, kalian bakal nemuin hal-hal yang selama ini ga pernah kalian sadarin. Saking banyaknya hal yang bakal kalian temuin sampe-sampe kalian bakal nyadar kalo 'oh, ternyata seru banget ya ngebaca lingkunga sekitar.' Nah, hal-hal kaya gini nih yang bikin gue pengen tau banyak mengenai lingkungan sekitar gue. Disaat-saat lagi melihat-lihat sekitar gue tertuju pada satu hal yang berkaitan dengan EMPAT huruf tadi. Hal itu dimulai ketika gue membuka suatu situs jejaring sosial dan menemukan dunia sekitar gue telah berubah. Yah, berubah ke arah yang berkaitan dengan empat huruf tadi. Perubahannya signifikan banget. Secepat itu kah uang dapat merubah segalanya? Sampai-sampai merubah seseorang dapat berpikir "berpendidikan ga menjamin semuanya kalo kita sendiri ga bisa ngejaga mulut dan perilaku kita sendiri,sekarang mah yg penting punya duit yg banyakkk biar bisa ngelakuin apa aja yg kita inginkan dan ga perlu hanya cuma sirikkkk sama orang lain."you see the point?? Gue sendiri miris banget bacanya. Hal itu mengisyaratkan uang diatas segala-galanya(meskipun pada kenyataannya memang benar), tapi kenapa kita ga coba untuk mengubah persepsi itu menjadi "segalanya bisa membeli uang." Dalam konteks ini, segalanya yang gue maksud adalah cara-cara terpuji yang menunjukkan kadar kehormatan seseorang dalam melakukan hal-hal yang ingin dia capai. Itu lebih terhormat. Contoh, seseorang yang tidak berkecukupan, namun rajin dan pintar dia akan memperjuangkan seluruh usahanya untuk MEMBELI UANG. Maksud dari kata itu adalah dia berusaha sekuat tenaga agar menjadi orang sukses dan tidak akan merendahkan harga dirinya hanya demi uang (jujur, org yg berpendapat diatas tadi tidak menerapkan aturan ini), karena uang telah menjadi milik mereka atas usaha mereka memperjuangkan uang tersebut, maka dengan mudah uang itu akan datang tanpa harus melakukan tindakan yang menyimpang.  Mudah bukan membuatnya. *oke,kali ini gue terpengaruh ucapan sebuah acara masak di TV*

Kebayang ga kalo semua orang udah berpikir kaya tadi? Kalo dibayangan gue sih kaya orang yang terjebak di arena sirkus dengan baju samaan terus jadi badut sirkus yang aaaaaaa~ *oke,kali ini gue korban iklan* Tapi untuk membahas hal ini sebenernya gue ga becanda, serius, sumpah seriusan. Gue turut bersedih ketika naluri pemerhati lingkungan gue muncul dan membaca suatu tulisan yang berpendapat seperti hal diatas tadi.