Beberapa hari yang lalu kamar mandi kostan saya mengalami suatu kejadian unik, dimana para semut sedang sibuk bertransmigrasi disana. Awalnya saya tidak berpikir macam-macam, hanya sekilas terbersit bahwa tempat awal mereka tinggal mungkin sedang dalam proses renovasi yang berhubungan dengan terjadinya perubahan suhu akhir-akhir ini. Namun, semakin saya mendiami keberadaan mereka saya merasa semakin terusik. Perlahan mereka mulai mengambil lahan-lahan saya untuk melakukan kegiatan yang berhubungan dengan aktivitas kamar mandi. Lalu aktivitas mereka pun berlanjut dengan mengambil setengah porsi nasi goreng saya untuk makan malam. Bahkan gelas kosong yang habis saya gunakan untuk meminum teh manis tak luput dari aktivitas mereka.
Saat itu saya masih berpikir "ah baiklah, tak apa berbagi rezeki dengan para semut." Tapi hari-hari berikutnya jumlah koloni mereka bertambah, entah ada berapa koloni semut yang mendiami kamar mandi saya waktu itu. Yang pasti, saya melihat ada empat ratu semut yang hilir-mudik mengawasi koloninya yang sedang memindahkan telur-telur mereka.
Agak prihatin melihat para koloni tersebut bekerja, entah berapa jauh jarak yang mereka tempuh untuk sampai ke kamar mandi saya sambil membawa dan melindungi telur-telur mereka. Tak heran begitu sampainya di kamar mandi saya mereka pun mengambil nasi goreng saya yang sedari awal saya letakkan jauh dari kamar mandi. Seperti halnya manusia, mereka pasti juga butuh makan dan minum, cuma cara mereka saja yang berbeda dengan kita.
Keesokan harinya dengan teramat sangat tidak tega saya memutuskan untuk mengusik keberadaan para koloni itu dengan menyemprotkan pengharum ruangan dan kapur tulis anti serangga disekeliling mereka. Tak ada maksud apa-apa selain hanya ingin mereka pindah dari kamar mandi saya ke tempat yang lebih layak untuk mereka. Karena seperti yang kita ketahui semut tidak akan bertahan ditempat yang ada airnya, apalagi di dalam kamar mandi.
Saya tidak tega melihatnya, karena setiap koloni mereka bolak-balik di sekitar kamar saya, saya berpikir bahwa salah satu dari mereka pasti ada seekor ayah semut yang sedang bekerja untuk mencari nafkah. Sayapun teringat dengan ayah saya yang harus mengakhiri hidupnya dijalan akibat kecelakaan ketika ia pulang bekerja. Saya merasa sangat sulit untuk beraktivitas disekitar mereka. Saya takut tidak sengaja menginjaknya dan membuat beberapa ekor semut menjadi yatim. Akhirnya saya memutuskan untuk memaksa mereka bertransmigrasi kembali demi kehidupan yang lebih layak.