malam datang, menggantikan siang. siang yang terang, terik, panas. siang yang penuh emosi, terburu-buru, berkeringat. memang siang hebat, ia memberi kesempatan untuk semua orang terburu-buru mengejar waktu, mencapai keinginannya, tapi saya lebih suka malam. malam yang gelap, dingin, dan damai.
gelap yang membuat saya suka untuk memerhatikan lampu-lampu kota dikala malam. lampu yang mengajak diri untuk berefleksi, dimana ia di-ibarat-kan sebagai hingar-bingar kehidupan, yang semuanya terang, berkilau, berwarna, kemudian kamu hanya memilih satu cahaya yang akan membawa mu ke tempat terang sesungguhnya.
gelap juga membawa bintang-bintang hadir untuk bersinar. mereka indah. mereka tampak kecil. mereka hebat. yaa memang mereka hebat, karena mereka sabar menunggu dengan waktu yang cukup lama agar tampak di bumi dan menyinarinya. mereka juga hebat, karena tidak saling iri, mereka tau bahwa mereka semua memiliki sinarnya sendiri.
iya sendiri, sendiri menghembuskan udara dingin. malam memang begitu. ia dingin, dingin yang membuat mu memilih masuk ke dalam ruangan, mendekati perapian, menyelimuti tubuhmu dengan kain, dan sesekali meneguk teh atau kopi. kemudian tanpa kau sadari, sebenarnya malamlah yang memberi mu kehangatan.
hangat, sehangat tegukan kopi yang masuk ke kerongkonganmu dan sekaligus menghangatkan hati mu. iya, malam memang baik. ia menghangatkan-mu, membuat mu merasa nyaman, dan memberikan kedamaian. seketika tanpa kau sadari semuanya terang, malam hilang.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar